Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang membentang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan dinamika tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya delapan kali guguran lava pijar yang mengarah ke sektor barat daya dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter pada pengamatan Selasa (21/7/2026).
Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, material erupsi tersebut terpantau mengalir ke alur Kali Krasak dan Kali Sat atau Putih. Secara visual, asap kawah berwarna putih berintensitas tipis teramati membubung hingga ketinggian 25 meter di atas puncak. Meski cuaca di sekitar gunung terpantau cerah, suplai magma di perut Merapi diindikasikan masih berlangsung secara berkelanjutan.
Selain guguran permukaan, rekaman kegempaan juga mengonfirmasi tingginya aktivitas intrinsik gunung api tersebut. Dalam kurun waktu enam jam pengamatan, tercatat 17 kali gempa guguran, 22 kali gempa fase banyak (hybrid), 6 kali gempa vulkanik dangkal, dan 1 kali gempa tektonik jauh. Tingginya intensitas gempa ini memperbesar potensi terjadinya awan panas guguran di area rawan bencana.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi tetap ditetapkan pada Level III (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat untuk mengosongkan seluruh aktivitas di dalam zona bahaya yang direkomendasikan, meliputi alur sungai di sektor selatan-barat daya hingga radius 7 km dan sektor tenggara hingga 5 km. Warga juga diingatkan untuk mewaspadai ancaman lahar dingin saat hujan turun di kawasan puncak.