Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia melaporkan temuan sebanyak 21.101 kasus campak yang tersebar di 36 provinsi sepanjang tahun 2026. Meskipun sempat mengalami penurunan signifikan setelah lonjakan di awal tahun, potensi penyebaran virus ini dinilai masih membayangi sejumlah wilayah di tanah air.
Penyakit campak sempat menjadi perhatian serius pada awal tahun 2026 akibat lonjakan kasus yang cukup ekstrem hingga merenggut korban jiwa dari kalangan anak-anak. Kendati pemerintah mencatat penurunan tren kasus hingga 93 persen pada pertengahan Maret lalu, penyebaran penyakit menular ini nyatanya belum sepenuhnya terhenti.
Direktur Imunisasi Kemenkes, Indri Yogyaswari, menegaskan bahwa meski secara agregat nasional angka penularan telah mereda, kantong-kantong penularan masih aktif ditemukan. Menurutnya, kelengahan dalam penanganan dan pencegahan berisiko memicu kembali ledakan kasus baru di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Indri menyoroti sekolah sebagai salah satu lokasi rawan penularan antaranak. Dari lingkungan sekolah, virus campak berpotensi besar terbawa ke dalam rumah dan menjangkiti anggota keluarga lain yang belum memiliki kekebalan tubuh memadai.
Guna mengantisipasi ancaman tersebut, Kemenkes kembali menekankan pentingnya pemberian vaksin dosis penguat (booster) bagi anak usia sekolah, meskipun mereka telah menerima imunisasi lengkap saat balita. Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang rutin digelar setiap bulan Agustus dan November menjadi strategi andalan pemerintah untuk memperkokoh proteksi jangka panjang hingga anak-anak tumbuh dewasa.