Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras terkait beban penyakit kanker di masa depan. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis pada 8 Juli 2026, prevalensi kasus kanker tahunan diprediksi akan melonjak hingga 66,7 persen, mencapai angka 35 juta kasus pada tahun 2050 mendatang.

Peningkatan tajam ini dipicu oleh dinamika populasi global, mencakup pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya angka harapan hidup, serta paparan faktor risiko yang kian masif. Namun, proyeksi ini membawa kabar buruk bagi negara-negara berkembang. Alih-alih merata, beban penyakit justru akan terdistribusi lebih berat ke wilayah yang memiliki keterbatasan sistem kesehatan, dengan potensi lonjakan kasus mencapai 133 persen di negara-negara miskin.

Analisis WHO menyoroti jurang lebar dalam angka kelangsungan hidup pasien. Di negara maju, lebih dari 85 persen penderita kanker payudara mampu bertahan hidup selama lima tahun pasca-diagnosis. Sebaliknya, angka tersebut anjlok di bawah 45 persen di negara-negara kurang mampu. Kesenjangan paling memprihatinkan terlihat pada kasus leukemia anak, di mana tingkat keberhasilan pengobatan di Eropa mencapai 93 persen, namun hanya menyentuh angka 19 persen di sebagian wilayah Afrika.

Akar permasalahan dari ketimpangan ini adalah minimnya akses terhadap deteksi dini dan infrastruktur medis esensial. Sebanyak 47 persen penduduk dunia saat ini hampir tidak memiliki akses terhadap pemeriksaan laboratorium dasar maupun teknologi pemindaian seperti CT scan. Kelangkaan sumber daya manusia, seperti jumlah dokter spesialis patologi yang sangat minim di negara berkembang dibandingkan negara maju, semakin memperburuk situasi.

Selain fasilitas, hambatan kebijakan kesehatan turut memperlebar kesenjangan. Data menunjukkan bahwa prosedur kritis seperti operasi kanker paru-paru ditanggung oleh jaminan kesehatan di 96 persen negara maju, sementara di negara berkembang, dukungan serupa hanya mencakup 19 persen kasus. Tanpa upaya global yang terintegrasi untuk memperbaiki aksesibilitas dan layanan dasar, dunia terancam menghadapi krisis kesehatan yang semakin timpang di masa depan.