Tanggal 31 Juli menyimpan memori kolektif yang penting bagi jalannya sejarah peradaban global. Dua peristiwa monumental yang terjadi pada tanggal ini menggambarkan dinamika hubungan manusia dengan alam semesta serta upaya pencapaian perdamaian melalui jalur diplomasi di kawasan Asia Tenggara.

Peristiwa pertama membawa kita pada catatan geologi kuno Jepang. Pada 31 Juli 781 SM, Gunung Fuji mencatatkan letusan pertamanya yang terdokumentasi dalam sejarah. Erupsi perdana gunung tertinggi di Jepang ini dilaporkan memicu gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 8 hingga 9, yang memporak-porandakan wilayah sekitarnya dan menandai awal dari fase vulkanik aktif selama berabad-abad berikutnya.

Sejak letusan pertama tersebut, Gunung Fuji mengalami belasan kali erupsi hebat, termasuk Letusan Hoei pada 1707 yang menyebarkan abu vulkanik hingga ke Tokyo (dahulu Edo). Meski kini tertidur dan dipantau ketat oleh para ilmuwan, gunung setinggi 3.776 meter ini telah bertransformasi menjadi ikon pariwisata global dan simbol spiritual yang sakral, serta diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2013.

Beralih ke panggung geopolitik Asia Tenggara, tanggal 31 Juli 1963 menjadi tonggak sejarah diplomasi penting. Di Manila, Filipina, tiga pemimpin negara serumpun—Presiden Indonesia Soekarno, Perdana Menteri Federasi Malaya Tunku Abdul Rahman, dan Presiden Filipina Diosdado Macapagal—menandatangani kesepakatan bersejarah yang dikenal sebagai Persetujuan Manila (Manila Accord).

Persetujuan ini dirumuskan untuk meredakan ketegangan terkait rencana pembentukan Federasi Malaysia. Melalui kesepakatan tersebut, Indonesia dan Filipina mendorong agar penentuan nasib politik masyarakat di Sabah dan Sarawak dilakukan secara demokratis di bawah prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Inisiatif ini juga melahirkan gagasan konfederasi regional non-politis bernama Maphilindo.

Melalui kilas balik 31 Juli, dunia diingatkan akan dua sisi kehidupan. Letusan Gunung Fuji merefleksikan kekuatan alam yang dahsyat dan tak terduga, sementara Persetujuan Manila membuktikan bahwa dialog antarbangsa merupakan instrumen krusial dalam merajut stabilitas dan meredam konflik geopolitik.