Pasar saham Korea Selatan yang sempat melesat berkat euforia kecerdasan buatan (AI) kini tengah menghadapi gelombang koreksi. Dua raksasa teknologi global asal Negeri Gingseng, Samsung Electronics dan SK Hynix, mencatatkan penurunan harga saham yang signifikan hingga lebih dari 30 persen dari titik tertingginya. Fenomena ini memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan tren investasi di sektor AI yang sebelumnya sangat agresif.
Padahal, kedua korporasi tersebut bersama produsen asal Amerika Serikat, Micron, menguasai mayoritas pasar memori akses acak dinamis (DRAM) dunia. Untuk memori NAND, produsen Korea Selatan bahkan mengendalikan hampir separuh pangsa pasar global. Keberadaan chip memori mutakhir ini sangat krusial bagi infrastruktur AI. Sebelum terjadinya koreksi, kinerja saham keduanya tumbuh luar biasa; SK Hynix melonjak hingga 549 persen secara tahunan, sementara Samsung membukukan kenaikan 271 persen pada periode yang sama.
Penurunan tajam belakangan ini dipicu oleh sikap hati-hati para investor yang mulai mempertanyakan apakah belanja modal miliaran dolar untuk infrastruktur AI dapat menghasilkan profitabilitas yang sepadan di masa depan. Selain itu, faktor makroekonomi turut memperkeruh situasi. Keputusan Bank Sentral Korea Selatan untuk menaikkan suku bunga acuan pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir telah menekan likuiditas pasar dan mengurangi daya tarik aset ekuitas yang berisiko.
Ketegangan pasar diperparah oleh keputusan MSCI yang tetap mengklasifikasikan pasar saham Korea Selatan sebagai pasar berkembang (emerging market), membatasi arus modal dari dana indeks global. Di sisi lain, persaingan industri kian sengit seiring munculnya produsen alternatif dari China, seperti ChangXin Memory Technologies (CXMT), yang mulai dilirik oleh para perancang teknologi global sebagai pemasok cadangan.
Kendati dihantam volatilitas tinggi, fundamental jangka panjang industri semikonduktor Korea Selatan dinilai belum bergeser secara signifikan. Produk memori pita lebar tinggi (HBM) dari Samsung dan SK Hynix tetap menjadi komponen inti yang belum tergantikan untuk server kecerdasan buatan. Bagi investor berorientasi jangka panjang, fluktuasi harga saham saat ini justru dapat dipandang sebagai fase konsolidasi wajar sebelum potensi pertumbuhan berikutnya.