Kolumnis senior The New York Times, Thomas Friedman, melayangkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam tulisannya, Friedman menyebut Trump cenderung menjadikan jabatan kepresidenan sebagai proyek pribadi yang mementingkan agenda politik dan keuntungan bisnis, alih-alih mengedepankan semangat persatuan nasional.
Friedman menyoroti pergeseran makna peringatan hari besar nasional, seperti perayaan 4 Juli. Ia menilai, di bawah kepemimpinan Trump, acara tersebut sering kali berubah menjadi panggung kampanye yang kental dengan retorika pembelahan massa, alih-alih menjadi wadah untuk merayakan nilai-nilai dasar demokrasi Amerika seperti yang tertuang dalam Konstitusi dan Deklarasi Kemerdekaan.
Lebih lanjut, Friedman menyoroti aspek finansial yang dianggapnya krusial. Ia mengutip laporan mengenai keterlibatan Trump dalam promosi aset kripto yang diduga telah merugikan investor hingga miliaran dolar AS, sementara sang mantan presiden justru meraup keuntungan dari proyek tersebut. Hal ini memicu pertanyaan mengenai integritas Trump dan loyalitas basis pendukungnya yang turut terdampak secara ekonomi.
Dalam analisisnya, Friedman menyarankan Partai Demokrat untuk mengubah strategi komunikasi politik. Alih-alih meladeni retorika emosional, Demokrat disarankan fokus pada narasi penyatuan bangsa serta memberikan edukasi kepada publik mengenai dugaan penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan pribadi yang dilakukan oleh Trump.
Sebagai penutup, Friedman mengimbau perlunya melawan polarisasi yang diperburuk oleh algoritma media sosial. Ia menekankan bahwa masa depan demokrasi Amerika Serikat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk kembali mengutamakan kerja sama, rasa saling menghormati, dan partisipasi aktif warga dalam menyehatkan iklim politik nasional.