Indonesia saat ini tengah mencatatkan posisi strategis sebagai destinasi utama investasi pusat data di Asia Tenggara. Pertumbuhan infrastruktur digital ini dipicu oleh kebutuhan mendesak akan ruang penyimpanan data yang lebih luas, terutama seiring masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor bisnis global.

Kendati demikian, derasnya arus modal yang masuk tidak serta-merta diikuti oleh kesiapan tenaga kerja lokal. Pakar teknologi, Onno W. Purbo, menegaskan bahwa tantangan krusial Indonesia saat ini telah bergeser dari urusan ketersediaan energi dan lahan menuju masalah serius yakni kesenjangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang sangat spesifik.

Menurut analisis Onno, permasalahan ini berakar pada ketidaksinambungan dalam ekosistem pengembangan bakat. Belum terciptanya rantai pasok talenta yang terintegrasi—mulai dari institusi pendidikan tinggi dan politeknik, hingga dunia industri serta standarisasi sertifikasi profesi—menjadi kendala utama yang menghambat penciptaan jenjang karier profesional di sektor ini.

Merujuk pada data Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), sektor ini mencatat pertumbuhan fantastis sebesar 20% hingga 25% setiap tahunnya di skala global. Indonesia bahkan diproyeksikan tumbuh melampaui rata-rata tersebut karena menjadi sasaran limpahan investasi dari negara tetangga yang mulai mengalami kejenuhan kapasitas. Tanpa adanya pembenahan dalam sistem link-and-match antara akademisi dan industri, bonus investasi ini dikhawatirkan tidak akan memberikan dampak optimal bagi penyerapan tenaga kerja nasional.