Sektor industri di Jepang diprediksi akan mencatatkan capaian finansial yang impresif pada tahun fiskal 2026. Berdasarkan analisis dari sejumlah perusahaan sekuritas besar, optimisme pasar tumbuh seiring dengan besarnya permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) yang berhasil meredam dampak kenaikan biaya operasional akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

SMBC Nikko Securities memperkirakan bahwa total laba bersih dari 250 perusahaan besar di Bursa Efek Tokyo berpotensi melonjak hingga 19,3%. Momentum ini utamanya digerakkan oleh industri semikonduktor, di mana kebutuhan masif akan pusat data bertenaga AI terus memacu pesanan untuk chip memori, komponen elektronik presisi, dan peralatan manufaktur chip. Perusahaan seperti Kioxia Holdings, Advantest, dan Tokyo Electron diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan ini.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi yang sempat dipicu oleh konflik di Timur Tengah kini mulai melandai. Harga minyak mentah yang kembali stabil memberikan napas lega bagi sektor industri manufaktur Jepang yang sangat bergantung pada pasokan energi impor. Faktor ini, ditambah dengan penyesuaian biaya operasional, membuat prospek keuntungan korporasi tampak lebih cerah dibandingkan perkiraan awal tahun yang cenderung konservatif.

Sektor otomotif, yang sempat terguncang oleh kebijakan tarif impor Amerika Serikat pada tahun lalu, juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Dengan estimasi peningkatan laba bersih mencapai 36,5%, sektor ini terbantu oleh peluncuran berbagai model kendaraan terbaru serta fluktuasi nilai tukar yen yang menguntungkan bagi pendapatan dari pasar luar negeri. Para analis meyakini bahwa jika stabilitas harga minyak bertahan, banyak perusahaan akan segera merevisi target laba mereka ke level yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.