Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) menggelar forum diskusi strategis bertajuk Temu Ilmiah III di Auditorium Kantor Bupati Pelalawan, Riau. Pertemuan ilmiah dalam rangka perayaan satu dekade ITP2I ini menyoroti akselerasi teknologi pintar dan hilirisasi guna memperkuat daya saing industri kelapa sawit nasional di tengah dinamika global.

Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran birokrasi, akademisi, hingga praktisi industri sawit internasional. Di antara para pembicara utama yang hadir adalah pakar dari Walailak University Thailand, IPB University, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), serta perwakilan Wilmar Afrika. Dukungan juga disampaikan secara virtual oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Rektor ITP2I, Prof. Tengku Dahril, mengungkapkan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menopang riset sektor perkebunan. Kampus yang kini telah meluluskan ratusan alumni tersebut menargetkan peningkatan kualifikasi tenaga pendidik hingga jenjang doktor demi menghasilkan inovasi terapan yang aplikatif bagi industri kelapa sawit.

Mewakili Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Asisten III Setdakab Mayhendri menekankan bahwa sebagai salah satu sentra kelapa sawit, daerahnya sangat membutuhkan sokongan riset ilmiah. Transformasi dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang jadi bernilai ekonomi tinggi menjadi kunci utama dalam meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Selain hilirisasi, Mayhendri menyoroti urgensi integrasi teknologi digital seperti kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) pada sistem pertanian modern. Langkah ini dinilai krusial untuk mendongkrak efisiensi produksi sekaligus memenuhi tuntutan pasar dunia yang kini mengutamakan prinsip keberlanjutan serta ketertelusuran produk.

Forum ilmiah ini juga membedah berbagai isu penting, mulai dari sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), penguatan legalitas UMKM sektor perkebunan, hingga optimalisasi peran BPDP dalam pendanaan riset. Sinergi erat antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri diharapkan mampu mengokohkan posisi strategis Indonesia di pasar kelapa sawit global.