Bagi banyak pegiat olahraga, mulai dari pelari hingga pesepeda, keluhan seperti mual, nyeri dada, hingga diare mungkin menjadi fenomena yang cukup akrab saat atau setelah beraktivitas fisik. Riset menunjukkan bahwa masalah saluran pencernaan merupakan keluhan umum yang dialami hingga 70 persen atlet di dunia, bahkan angka riil di lapangan disinyalir jauh lebih tinggi dari data yang tercatat.
Para ahli, termasuk pakar dari Harvard Medical School, mencatat bahwa perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan pencernaan fungsional. Meskipun kondisi ini umumnya tidak dikategorikan berbahaya, ketidaknyamanan yang ditimbulkan kerap menjadi penghambat utama bagi seseorang untuk konsisten menjalankan rutinitas kebugarannya.
Secara fisiologis, fenomena ini berakar pada mekanisme distribusi aliran darah dalam tubuh. Saat seseorang melakukan aktivitas fisik intens, otot yang bekerja keras membutuhkan pasokan darah lebih besar guna menghasilkan tenaga. Akibatnya, pasokan darah ke sistem pencernaan berkurang secara drastis, yang menyebabkan proses metabolisme makanan terganggu dan memicu gejala kembung atau mual.
Setiap individu memiliki toleransi yang berbeda terhadap asupan makanan sebelum berolahraga. Ada orang yang mampu beraktivitas sesaat setelah makan, namun banyak pula yang harus memberi jeda waktu cukup lama guna menghindari rasa lesu atau gangguan perut. Selain asupan makanan, penggunaan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen juga menjadi faktor risiko tambahan yang dapat memperburuk kondisi lambung jika dikonsumsi berlebihan.
Dokter spesialis kedokteran olahraga menyarankan agar setiap orang mengenali batas tubuhnya sendiri. Mengatur jadwal makan dan membatasi konsumsi obat-obatan pereda nyeri sebelum berlatih menjadi langkah preventif krusial agar aktivitas fisik tetap memberikan manfaat kesehatan tanpa dibarengi keluhan sistem pencernaan.