Langkah Presiden Joko Widodo yang secara resmi memulai safari politiknya bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Jumat (26/06/2026), memicu analisis mendalam dari berbagai kalangan pengamat. Manuver ini dinilai sebagai upaya strategis Jokowi untuk mengamankan posisi dan pengaruh politiknya pasca-masa jabatannya sebagai presiden.
Direktur Eksekutif Triaspols, Agung Baskoro, menyoroti bahwa PSI saat ini berada dalam fase mencari sosok sentral yang mampu mendongkrak popularitas partai. Dengan rekam jejak Jokowi yang sukses memenangkan dua periode pemilihan presiden dengan perolehan suara signifikan, kehadirannya diyakini menjadi katalisator bagi pertumbuhan partai berlambang gajah tersebut.
Di sisi lain, Senior Research dari Paramadina Public Policy Institute, Wahyutama, memberikan pandangan yang lebih spesifik terkait kendali internal. Menurutnya, alasan utama pemilihan PSI tidak lepas dari posisi putra bungsu Presiden, Kaesang Pangarep, yang menjabat sebagai Ketua Umum. Faktor kekerabatan ini menciptakan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi Jokowi untuk menjadikan PSI sebagai instrumen politik utama.
Dalam lanskap politik yang dinamis, ketergantungan Jokowi pada partai yang dipimpin oleh putranya ini dipandang sebagai bentuk pragmatisme untuk menjaga kelangsungan agenda politiknya. Sulit bagi mantan Wali Kota Solo tersebut untuk sepenuhnya memercayakan visi politiknya kepada partai lain di luar lingkaran pengaruh keluarganya saat ini.