Paparan debu dan kepulan asap kendaraan bermotor telah menjadi makanan sehari-hari bagi Junaedi dan Yatno. Dua penyapu jalan di kawasan Jakarta Timur ini kerap didera batuk serta sesak napas saat musim kemarau tiba. Tanpa akses pemeriksaan medis yang memadai, obat warung terpaksa menjadi andalan instan demi bertahan hidup di tengah kepungan polusi udara ibu kota.

Kondisi riil di lapangan tersebut sejalan dengan rilis data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta tahun 2025. Sepanjang tahun lalu, warga Jakarta tercatat hanya menikmati udara berkategori baik selama enam hari. Sisanya didominasi oleh 259 hari kategori sedang dan 93 hari dengan kualitas udara tidak sehat. Di kancah global, laporan IQAir 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-17 dari 134 negara dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Tantangan lingkungan ini diprediksi bakal semakin berat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan Indonesia akan menghadapi kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino "Godzilla" yang diperkirakan berlangsung dari April hingga Oktober 2026. Kepala DLH Jakarta, Dedi Gardesi Asikin, memperingatkan bahwa cuaca kering yang berkepanjangan ini akan memicu akumulasi polutan partikulat berbahaya seperti PM2.5 di atmosfer secara masif.

Sektor transportasi darat, aktivitas industri, dan pembakaran sampah terbuka masih menjadi tiga kontributor terbesar pencemaran udara. Akibatnya, kasus gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), jantung iskemik, hingga pneumonia terus mengancam warga. Peneliti RCCC Universitas Indonesia, Budi Haryanto, menekankan bahwa dampak buruk polusi ini tidak mengenal batas wilayah dan sangat rentan menyasar anak-anak, ibu hamil, lansia, serta pekerja lapangan.

Menyikapi ancaman ini, Manajer Kampanye Tata Ruang dan Infrastruktur Walhi Nasional, Wahyu Eka Putra, menilai kebijakan pemerintah sejauh ini masih terjebak pada pendekatan teknis permukaan tanpa menyelesaikan akar masalah. Pihaknya mendesak langkah konkret dari pembuat kebijakan, mulai dari penerapan bahan bakar rendah sulfur, transisi energi bersih di sektor industri, perluasan transportasi publik terintegrasi, hingga pelarangan keras terhadap pembakaran sampah di area terbuka.