Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menggarisbawahi urgensi redefinisi nasionalisme di abad ke-21. Menurutnya, semangat kebangsaan saat ini tidak cukup hanya dimaknai sebagai persatuan, tetapi harus diwujudkan secara konkret melalui penguatan fondasi ekonomi dan teknologi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Nusron saat memberikan arahan kepada ratusan peserta Diklat Pratama Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) di Bogor, Jawa Barat. Ia menekankan bahwa dalam menghadapi persaingan global yang semakin sengit, Indonesia mutlak harus berdaulat di tiga sektor utama: ketahanan pangan, kemandirian energi, dan penguasaan teknologi mutakhir.
Merujuk pada perspektif hubungan internasional, Nusron memperingatkan bahwa ketergantungan pada pihak luar di ketiga sektor tersebut dapat mengancam posisi tawar Indonesia di kancah dunia. Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk fokus pada peningkatan kapasitas intelektual agar mampu memenangkan perang ekonomi dan pengaruh geopolitik di masa depan.
Selain penguasaan aspek teknis, Menteri Nusron juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan memiliki daya kritis tinggi. Ia meyakini bahwa mahasiswa memegang peranan strategis sebagai agen perubahan yang nantinya akan memegang tampuk kepemimpinan di berbagai sektor, baik sebagai birokrat, pengusaha, maupun profesional.
Sebagai penutup, ia mendorong generasi muda untuk senantiasa menyelaraskan kemampuan akademik dengan komitmen kebangsaan. Inovasi yang dibarengi dengan integritas dianggap sebagai kunci utama dalam membawa bangsa Indonesia menjadi negara yang tangguh serta mampu menjawab tantangan zaman secara mandiri.