Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan tanggapan tegas terkait persepsi publik yang selama ini lebih banyak mengaitkan kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur, dengan praktik pesugihan. Menurutnya, pelabelan mistis yang terlanjur melekat di masyarakat telah mereduksi nilai sejarah dan keberagaman tradisi yang tersimpan di situs tersebut.

Dalam pandangan Fadli, Gunung Kawi seharusnya diposisikan sebagai mozaik budaya yang merepresentasikan perpaduan nilai-nilai lokal dengan keberagaman latar belakang sosial di masa lalu. Ia menilai bahwa narasi mistis yang dominan justru menutupi fakta bahwa kawasan ini merupakan artefak sejarah yang memiliki kaitan erat dengan akulturasi budaya di Indonesia.

Lebih lanjut, Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk melakukan reposisi terhadap citra situs-situs bersejarah seperti Gunung Kawi. Fokus utama pemerintah kini adalah edukasi publik agar masyarakat dapat memandang situs ini dari sisi warisan budaya, nilai histori, serta kekayaan sosiologis yang harus dijaga keberadaannya bagi generasi mendatang.

Fadli Zon menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan stigma negatif terus mendominasi identitas tempat bersejarah. Upaya pelestarian ke depan akan melibatkan riset mendalam untuk mengungkap sisi otentik dari Gunung Kawi, sehingga pemanfaatan situs tersebut ke depannya lebih berorientasi pada pengembangan wawasan budaya dan pendidikan sejarah nasional.