Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), video commerce, dan social commerce diproyeksikan menjadi motor penggerak utama industri pemasaran digital di masa mendatang. Kendati demikian, adopsi teknologi mutakhir ini harus diimbangi dengan pembangunan kepercayaan konsumen serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) demi menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Isu strategis tersebut mengemuka dalam ajang bergengsi Marketing + Media Alliance (MMA) Marketing Talk Indonesia 2026 yang berlangsung di JW Marriott Hotel Jakarta. Mengusung tema "Lead with Innovation. Grow with Purpose.", konferensi ini mempertemukan puluhan pemimpin industri dari berbagai sektor untuk merumuskan strategi adaptif di tengah perubahan lanskap digital yang dinamis.
CEO & Board of Directors MMA APAC, Rohit Dadwal, menegaskan bahwa inovasi yang sukses harus berakar dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan nyata masyarakat. Teknologi, menurutnya, bukanlah tujuan akhir melainkan sarana untuk menghadirkan solusi yang relevan. Keberhasilan integrasi AI juga sangat bergantung pada transparansi bisnis dan kemampuan perusahaan dalam menjaga kepercayaan publik.
Lebih lanjut, Rohit optimistis terhadap masa depan ekonomi digital Indonesia yang ditopang oleh populasi usia muda serta tingginya penetrasi teknologi. Ia memprediksi bahwa platform video commerce dan social commerce akan mendominasi sektor periklanan dalam beberapa tahun ke depan, tidak hanya di kota besar tetapi juga menjangkau daerah-daerah lain melalui digitalisasi layanan pendidikan dan keuangan.
Senada dengan hal itu, Komisaris PT Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie, menyoroti pentingnya penguatan kapasitas talenta lokal agar Indonesia mampu bersaing secara global. Ia menekankan perlunya dukungan regulasi yang kokoh serta kepemimpinan yang adaptif. Di sisi lain, Ilham mengingatkan pentingnya membangun kemandirian teknologi guna menekan risiko ketergantungan pada platform AI asing di tengah ketidakpastian geopolitik global.