Republik Islam Iran tengah dilanda duka mendalam setelah Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, dinyatakan meninggal dunia akibat serangan udara yang menghantam ibu kota Teheran pada 28 Februari 2026. Pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi insiden tersebut, yang terjadi di tengah eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Sebagai respon atas peristiwa ini, otoritas Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Selain itu, pemerintah juga menginstruksikan libur nasional selama satu pekan sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap sosok yang telah memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Iran sejak tahun 1989 tersebut.
Ali Khamenei merupakan figur sentral yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah politik Iran modern. Lahir di Mashhad pada 1939, ia berperan aktif dalam Revolusi 1979 sebelum akhirnya menjabat sebagai Presiden Iran pada era 1980-an. Pasca wafatnya pendiri Republik Islam, Khamenei mengambil alih kendali penuh atas kebijakan militer, politik luar negeri, hingga urusan keagamaan negara.
Selama lebih dari tiga dekade memimpin, Khamenei dikenal dengan kebijakan luar negerinya yang konfrontatif terhadap Barat serta perannya yang sangat dominan dalam dinamika nuklir kawasan Timur Tengah. Sepanjang masa pemerintahannya, ia tetap mempertahankan pengaruh Iran yang kuat meski kerap menghadapi gejolak domestik dan tekanan internasional.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa wafatnya Khamenei dalam situasi konfrontasi militer saat ini merupakan titik balik yang sangat signifikan. Peristiwa ini diperkirakan akan memicu perubahan besar dalam peta politik domestik Iran sekaligus mempengaruhi stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah secara luas di masa depan.