Pemerintah Provinsi Maluku Utara berkomitmen mempercepat pembenahan infrastruktur jalan di wilayah Oba Selatan hingga tahun 2027. Fokus utama pembangunan diarahkan pada penyelesaian dua jalur krusial yang sempat terbengkalai selama bertahun-tahun, yakni ruas Payahe–Dehepodo dan Saketa–Dehepodo.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa dari total bentang jalan sepanjang 100 kilometer pada kedua rute tersebut, sekitar 50 kilometer di antaranya masih dalam kondisi rusak berat. Kerusakan ini terbagi atas 30 kilometer di koridor Payahe–Dehepodo dan 20 kilometer di lintas Saketa–Dehepodo.
Pengerjaan proyek ini akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kapasitas anggaran daerah. Untuk ruas Payahe–Dehepodo, pemerintah provinsi mengalokasikan pengaspalan sepanjang 10 kilometer pada tahun 2026, sedangkan sisa 20 kilometer ditargetkan rampung pada tahun 2027 menggunakan metode lapis penetrasi (lapen).
Sementara itu, pengerjaan untuk jalur Saketa–Dehepodo dijadwalkan menyasar sepanjang delapan kilometer pada tahun ini. Sisa pengerjaan sepanjang 12 kilometer pada jalur tersebut ditargetkan tuntas sepenuhnya pada akhir tahun 2027 mendatang.
Sebelumnya, proyek infrastruktur ini sempat mangkrak dan menyisakan lapisan pondasi agregat (LPA) tanpa aspal. Jalur ini merupakan bagian dari proyek terdahulu yang didanai melalui pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Sherly menjelaskan, kelanjutan proyek ini baru dapat direalisasikan setelah rampungnya proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Selain fokus pada pengaspalan jalan, prioritas penanganan juga diarahkan pada pembenahan tanjakan ekstrem di kawasan Gunung Mangga yang kerap membahayakan pengendara. Pemprov Malut berencana menurunkan tingkat kemiringan (elevasi) tanjakan tersebut agar lebih landai demi meningkatkan keselamatan dan kelancaran mobilitas masyarakat di wilayah Oba dan Oba Selatan.