Indonesia mengambil langkah strategis dalam memperluas jangkauan industri nasional dengan menjadi Official Partner Country pada ajang INNOPROM 2026. Perhelatan pameran industri internasional yang diselenggarakan di Yekaterinburg, Rusia ini, dimanfaatkan pemerintah sebagai gerbang untuk menjajaki peluang investasi, pengembangan manufaktur bersama (co-production), serta transfer teknologi ke pasar kawasan Eurasia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia merupakan komitmen nyata untuk mendongkrak daya saing manufaktur di kancah global. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat jejaring kemitraan jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga pada penguatan kapasitas industri dalam negeri.

Dalam upaya memaksimalkan potensi tersebut, pemerintah memboyong 50 co-exhibitor dari berbagai sektor strategis, mulai dari industri agro, farmasi, kimia, hingga rekayasa maju. Seluruh delegasi Indonesia akan menempati paviliun seluas 1.512 meter persegi yang dirancang sebagai etalase kemampuan teknologi dan peluang investasi bagi para investor serta pelaku usaha internasional dari 60 negara peserta.

Direktur Jenderal KPAII Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menambahkan bahwa fokus utama pemerintah adalah realisasi kerja sama pasca-acara. "Kami tidak hanya mengejar pertemuan bisnis di lokasi, tetapi memastikan adanya keberlanjutan berupa investasi nyata dan proyek manufaktur yang memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional," jelasnya.

Pihak Rusia menyambut positif kehadiran Indonesia sebagai mitra strategis di Asia Tenggara. Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Alexei Gruzdev, menilai penunjukan Indonesia sebagai mitra utama dalam pameran ini merefleksikan kedekatan hubungan ekonomi kedua negara. Sinergi ini diproyeksikan menjadi katalisator bagi pertumbuhan industri manufaktur yang lebih dinamis di masa depan.