Keberadaan bangunan Koperasi Merah Putih (KMP) di kawasan Stone Garden, Bandung Barat, belakangan menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang menampilkan lokasinya di tengah vegetasi lebat viral di media sosial. Banyak pihak mempertanyakan aksesibilitas dan urgensi pembangunan koperasi yang tampak terisolasi di kawasan pegunungan kapur tersebut.
Kepala Desa Gunungmasigit, Tarkopa, secara tegas menepis anggapan bahwa bangunan berukuran 20x30 meter tersebut berada di atas gunung. Ia menjelaskan bahwa lokasi pembangunan justru terletak di area lapangan parkir objek wisata Stone Garden. Menurutnya, narasi yang beredar di dunia maya tidak mencerminkan kondisi geografis yang sebenarnya di lapangan.
Tarkopa mengungkapkan bahwa pemilihan titik tersebut merupakan hasil koordinasi dengan PT Agrinas Pangan Nusantara selaku pelaksana program. Kawasan tersebut dianggap paling ideal berdasarkan ketersediaan lahan carik desa serta potensi kolaborasi ekonomi ke depan. Rencananya, koperasi ini akan berfungsi sebagai pusat distribusi produk lokal dan penunjang ketahanan pangan, sekaligus mitra strategis bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
Tantangan utama dalam pembangunan KMP di berbagai desa di Kecamatan Cipatat adalah syarat luas lahan minimal 1.000 meter persegi yang harus berstatus tanah kas desa. Camat Cipatat, Herman Permadi, mengakui bahwa keterbatasan lahan carik menjadi kendala utama. Dari 12 desa yang direncanakan memiliki unit koperasi, baru lima desa yang memenuhi syarat ketersediaan lahan, sementara desa lainnya masih terkendala regulasi kepemilikan tanah.
Herman menambahkan bahwa variasi lokasi bangunan, mulai dari area perkebunan karet hingga kawasan galian pasir, merupakan konsekuensi dari terbatasnya aset tanah desa. Meskipun sempat menuai kritik mengenai aksesibilitas, pihak pemerintah setempat optimis bahwa kehadiran koperasi ini akan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat pedesaan di masa mendatang.