Pemerintah Indonesia secara strategis mengubah paradigma penanganan kesehatan dengan memprioritaskan upaya preventif untuk menekan laju kasus stroke. Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemerintah kini mengarahkan fokus pada deteksi dini faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang kerap menjadi pemicu utama stroke.
Hingga saat ini, stroke tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi di Tanah Air, melampaui angka kematian akibat kanker maupun penyakit jantung. Data mencatat sekitar 337.000 jiwa meninggal dunia akibat penyakit ini setiap tahunnya. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pendekatan proaktif melalui program skrining massal ditargetkan mampu menjangkau 280 juta penduduk, atau sekitar 80 persen dari total populasi nasional dalam lima tahun ke depan.
Dalam implementasinya, pemerintah menerapkan skema taktis 80-80-80, yakni 80 persen penduduk teridentifikasi, 80 persen mendapatkan pengobatan, dan 80 persen berhasil mengendalikan kondisi kesehatan mereka. Langkah ini diambil menyusul tingginya beban biaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk penanganan stroke yang menembus angka Rp5 triliun per tahun, serta tingginya potensi kasus yang belum tercatat dalam sistem registrasi nasional.
Di sisi hilir, pemerintah tengah melakukan akselerasi pemenuhan fasilitas kesehatan di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Target utamanya adalah penyediaan alat CT scan dan cath lab di 514 wilayah untuk memastikan penanganan darurat dapat dilakukan dalam 'golden period' atau periode emas keselamatan pasien. Selain sarana, peningkatan kompetensi tenaga medis melalui pelatihan bedah khusus juga menjadi prioritas nasional.
Upaya integratif ini mendapat dukungan penuh dari para praktisi medis dalam ajang Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summit (ICONNS) 2026. Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional, dr. Adin Mulkasana, menekankan pentingnya standardisasi klinis dan sinergi multidisiplin antar tenaga spesialis di seluruh daerah. Langkah holistik ini diharapkan mampu menekan angka kecacatan permanen sekaligus meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.