Sosok Anggi Wahyuda kini tengah menarik perhatian publik di media sosial lewat aksi-aksinya yang luar biasa. Sebagai seorang kreator konten, ia kerap membagikan aktivitas fisik yang menantang adrenalin, mulai dari olahraga lari hingga mendaki berbagai gunung di Indonesia dan mancanegara.
Namun, perjalanan Anggi tidaklah biasa. Ia kehilangan salah satu kakinya akibat kecelakaan lalu lintas saat masih duduk di bangku SMA pada tahun 2015. Sejak saat itu, ia harus mengandalkan sepasang kruk untuk membantunya melangkah, termasuk saat menyusuri jalur pendakian yang ekstrem.
Kehilangan anggota tubuh sempat membuatnya terpuruk dalam depresi selama dua tahun. Anggi mengakui bahwa menjadi disabilitas akibat kecelakaan memberikan beban psikologis yang sangat berat. Selain harus menerima kenyataan pahit dan mengubur mimpi-mimpinya, ia juga dituntut untuk tetap kuat demi menenangkan keluarga dan kerabat terdekatnya.
Enggan menyerah pada keadaan, Anggi memilih bangkit dan menyebarkan energi positif melalui media sosial. Kegiatannya menaklukkan puncak-puncak gunung menjadi pembuktian nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Salah satu pencapaian prestisiusnya adalah berhasil mencapai Everest Base Camp di Nepal pada tahun 2025.
Kendati telah menginjakkan kaki di kaki gunung tertinggi di dunia, Anggi menyebut pendakian di Gunung Leuser, Aceh, sebagai petualangan paling menantang yang pernah ia lalui. Selama 12 hari 11 malam perjalanan, ia harus berhadapan dengan ancaman nyata dari predator hutan, yakni harimau Sumatra.
Bagi Anggi, keberaniannya menghadapi risiko tersebut bukan sekadar untuk mencari sensasi. Ia berharap keberhasilannya melintasi habitat satwa liar dengan keterbatasan fisik dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pemerintah terhadap kemampuan para penyandang disabilitas.