Menembus pasar Eropa melalui Prancis kini menjadi langkah strategis bagi sejumlah pengusaha Vietnam. Meskipun jumlah investor asal Vietnam belum masif, tren kepemilikan dan operasional bisnis oleh warga Vietnam di negara dengan populasi hampir 70 juta jiwa ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Vu Nguyet Anh, pendiri layanan perjalanan COvivu, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bagi pendatang baru bukan terletak pada ketiadaan ide, melainkan keharusan untuk memulai segalanya dari nol. Pengalaman sukses di negara asal tidak serta-merta menjamin reputasi di pasar baru. Ia menekankan pentingnya beradaptasi dengan sistem administrasi, hukum, pajak, hingga dinamika pasar yang sangat berbeda dari Vietnam.
Senada dengan hal tersebut, pemilik jaringan restoran Obobun, Phan Viet Phong, menyoroti pentingnya disiplin operasional di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Menurutnya, di tengah kenaikan biaya bahan baku dan tekanan inflasi, pengusaha harus mampu mengelola margin keuntungan dengan cermat. Ia justru melihat adanya peluang bagi investor asing untuk mengakuisisi bisnis yang sudah ada sebagai strategi efisiensi biaya awal.
Konsul Jenderal Prancis di Kota Ho Chi Minh, Etienne Ranaivoson, menyatakan bahwa pemerintah Prancis terus berupaya menyederhanakan prosedur administratif guna menarik talenta internasional. Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi Prancis sebagai pintu gerbang utama bagi bisnis asing di pasar Eropa yang stabil dan transparan.
Bagi para calon investor, ketersediaan sumber daya finansial untuk mempertahankan operasional selama setidaknya 6 hingga 12 bulan pertama menjadi syarat mutlak. Selain itu, kolaborasi dengan akuntan dan penasihat hukum lokal dinilai krusial agar pelaku bisnis dapat memahami regulasi ketenagakerjaan serta karakteristik pasar Eropa secara menyeluruh sebelum melakukan ekspansi lebih jauh.