Pasar modal Indonesia tengah diramaikan oleh gelombang aksi penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue sepanjang Juli 2026. Namun, langkah strategis emiten ini dihadapkan pada realitas ekonomi yang cukup menekan, yakni tren kenaikan suku bunga dan dinamika pasar yang masih fluktuatif.
Kondisi ini diperberat dengan kenaikan suku bunga BI rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam periode tiga bulan terakhir. Kenaikan tersebut secara langsung mendongkrak beban biaya pendanaan atau cost of fund bagi perusahaan yang ingin memperkuat struktur permodalan mereka melalui pasar modal.
Di sisi lain, optimisme investor tampak masih tertahan melihat performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kenaikan tipis sebesar 0,83% dalam sepekan terakhir menjadi indikator bahwa sentimen pasar masih belum pulih sepenuhnya, sehingga emiten harus menyusun strategi yang lebih cermat dalam menarik minat pemegang saham untuk mengeksekusi hak mereka.