PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan penurunan laba bersih sebesar 19 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada paruh pertama tahun 2026. Laba bersih emiten konglomerasi ini tercatat sebesar Rp12,53 triliun, menyusut dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp15,52 triliun. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya performa dari lini bisnis solusi pertambangan dan alat berat.
Sepanjang semester pertama tahun ini, Astra mengantongi pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp157,91 triliun, terkontraksi 3 persen secara tahunan dari Rp162,86 triliun. Di sisi lain, jika tidak memperhitungkan pos-pos luar biasa (non-recurring items), laba bersih grup sebenarnya berada di angka Rp14,89 triliun, atau mengalami penurunan yang lebih moderat sebesar 7 persen dibanding Semester I-2025.
Presiden Direktur Astra, Rudy, menjelaskan bahwa pertumbuhan positif pada lini bisnis otomotif dan jasa keuangan masih belum cukup kuat untuk menopang anjloknya kinerja di sektor tambang. Laba bersih dari segmen otomotif tercatat naik 9 persen menjadi Rp5,91 triliun, sementara sektor jasa keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp4,65 triliun.
Sebaliknya, sektor solusi pertambangan dan alat berat mengalami pukulan telak dengan penurunan laba bersih hingga 46 persen menjadi Rp2,70 triliun. Kemerosotan signifikan ini disebabkan oleh penurunan volume penjualan emas, merosotnya permintaan alat berat, serta melemahnya aktivitas jasa pertambangan dan produksi batu bara.
Menghadapi situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Rudy menegaskan bahwa manajemen Astra akan tetap konsisten menjalankan arah strategis baru. Fokus perusahaan tetap tertuju pada tiga pilar bisnis utama, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat, dengan mengandalkan manajemen permodalan yang disiplin serta struktur keuangan yang kokoh.