Aktivitas pendakian di Gunung Merapi melalui jalur Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan setelah beredarnya rekaman video di media sosial yang menunjukkan tingginya animo pendaki. Fenomena ini memicu kekhawatiran karena dilakukan di tengah status Gunung Merapi yang hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Heri Wibowo, menyayangkan sikap para pendaki yang dinilai abai terhadap berbagai peringatan. Menurutnya, imbauan dari berbagai pihak, mulai dari instansi teknis seperti BPPTKG, BNPB, hingga tokoh daerah seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, seolah tidak dipatuhi oleh masyarakat dan para pendaki yang nekat menerobos kawasan terlarang.

Menghadapi situasi ini, pihak otoritas taman nasional memilih untuk tidak melakukan tindakan represif. Heri menyatakan bahwa pendekatan persuasif melalui dialog dengan warga setempat dianggap lebih efektif guna menghindari potensi benturan horizontal yang mungkin terjadi jika aparat keamanan, seperti TNI dan Polri, dikerahkan untuk melakukan penjagaan paksa di jalur pendakian.

Rencananya, BTNGM akan segera menggelar pertemuan tertutup dengan masyarakat setempat untuk mencari solusi bersama terkait maraknya aktivitas ilegal tersebut. Hingga saat ini, petugas lapangan tetap disiagakan di kawasan Selo untuk melakukan edukasi dan pendekatan secara humanis kepada setiap orang yang berupaya mendaki.

Sebagai informasi, pendakian Gunung Merapi telah dinyatakan tidak direkomendasikan sejak peningkatan status gunung dari Waspada menjadi Siaga pada November 2020 lalu. Larangan ini mengecualikan kegiatan tertentu yang bersifat esensial, seperti penelitian ilmiah atau mitigasi bencana yang memerlukan akses khusus ke kawasan tersebut.