Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik berupa luncuran awan panas guguran pada Sabtu (13/6/2026). Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimal 28 milimeter dan durasi selama 8 menit 37 detik.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa aktivitas awan panas mulai terdeteksi sejak pukul 23.00 WIB. Sayangnya, kondisi visual gunung yang tertutup kabut tebal membuat jarak luncur material vulkanik tersebut tidak dapat teramati secara presisi oleh petugas di lapangan.
Meskipun luncuran awan panas saat ini telah berhenti dan kondisi permukiman penduduk di sekitar lereng dinyatakan aman, pihak BPBD tetap mengambil langkah antisipatif. Tim Reaksi Cepat (TRC) telah disiagakan untuk merespons potensi eskalasi aktivitas gunung, terutama jika pergerakan awan panas mendekati radius 8 kilometer dari puncak kawah.
Selain ancaman awan panas, Isnugroho menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko banjir lahar hujan. Akumulasi material pasir dan batu hasil erupsi di lereng gunung kini semakin bertambah, yang berpotensi terseret arus air apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah tersebut.
Saat ini, status Gunung Semeru masih bertahan di Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan larangan keras bagi masyarakat untuk beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak kawah, demi menghindari risiko perluasan awan panas maupun terjangan banjir lahar.