Kota Probolinggo mencatatkan angka inflasi sebesar 0,18% secara bulanan (month-to-month) pada Juni 2026. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor utama yang mendorong tekanan inflasi di wilayah tersebut.
Meskipun terjadi peningkatan, Indra menegaskan bahwa laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Probolinggo masih berada dalam koridor sasaran nasional, yakni 2,5±1%. Secara tahunan, inflasi daerah ini mencapai 2,92% (year-on-year), angka yang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi di Provinsi Jawa Timur maupun nasional.
Data menunjukkan bahwa kelompok transportasi menyumbang andil terbesar bagi inflasi sebesar 0,10%. Hal ini dipicu oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Turbo, yang mulai berlaku efektif sejak awal Juni 2026. Selain BBM, komoditas pangan seperti bawang putih, beras, bawang merah, dan daging sapi turut memberikan kontribusi pada kenaikan indeks harga.
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh adanya deflasi pada sejumlah komoditas pangan pokok, seperti daging ayam ras, cabai rawit, serta sayur-mayur. Penurunan harga ini dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan yang melimpah di tingkat pasar. Selain itu, koreksi harga emas perhiasan mengikuti tren pelemahan harga emas di pasar global turut menekan laju inflasi.
Pemerintah Kota Probolinggo bersama Bank Indonesia terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui kerangka 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Langkah nyata seperti penyelenggaraan Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta optimalisasi Toko Pengendali Inflasi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga.
Berkat konsistensi dalam menjaga stabilitas ekonomi regional, Kota Probolinggo bahkan berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai Pemerintah Daerah Berprestasi Kategori Pengendalian Inflasi Terbaik III Nasional untuk wilayah Jawa–Bali.