Pemerintah Vietnam secara resmi mendorong terobosan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui implementasi Resolusi No. 57-NQ/TW. Kebijakan ini berfokus pada pembangunan ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia berkualitas, khususnya di bidang krusial seperti matematika, fisika, biologi, teknik, dan kecerdasan buatan (AI).

Target ambisius telah ditetapkan untuk tahun 2030, di mana Vietnam menargetkan rasio tenaga riset mencapai 12 orang per 10.000 penduduk, serta peningkatan publikasi ilmiah internasional sebesar 10% setiap tahunnya. Langkah ini diambil untuk memastikan negara mampu menguasai teknologi strategis dan mencapai kemandirian dalam peta persaingan digital global.

Berkaca dari kesuksesan Korea Selatan, keterlibatan sektor swasta menjadi kunci utama. Konglomerat seperti Samsung, SK hynix, dan LG telah membuktikan bahwa keterlibatan aktif perusahaan dalam pelatihan pascasarjana dan pendanaan riset mampu menjembatani kesenjangan antara dunia akademis dan kebutuhan industri. Model ini mengubah perusahaan dari sekadar produsen menjadi pusat inovasi yang membina talenta teknis tingkat tinggi.

Mengadopsi pola tersebut, sektor swasta di Vietnam mulai mengambil langkah proaktif. Perusahaan teknologi seperti FPT telah meluncurkan program dukungan khusus bagi mahasiswa doktoral dengan total insentif mencapai 500 juta VND per orang. Melalui pendirian Institut AI Kuantum & Keamanan Siber dengan investasi sebesar 100 juta dolar AS, FPT berupaya melatih 100 doktor dan menciptakan ribuan pakar teknologi baru.

Sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi institusi pendidikan, dan partisipasi sektor bisnis menjadi fondasi vital bagi masa depan teknologi Vietnam. Dengan memperkuat kapasitas riset independen dan keterhubungan praktis di lapangan, Vietnam berupaya meningkatkan daya saingnya di tengah persaingan global yang semakin sengit di bidang teknologi inti.