Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Senin dinihari, 13 Juli 2026. Puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 1,2 kilometer ke arah barat daya. Fenomena yang terpantau sejak pukul 00.49 WIB ini menunjukkan intensitas erupsi yang cukup signifikan, dengan tercatatnya lebih dari 18 kali letusan susulan hingga siang hari.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, data kegempaan menunjukkan gejolak yang intens di dalam perut bumi. Dalam kurun waktu enam jam pertama hari Senin, tercatat sebanyak 33 kali gempa letusan, 12 kali gempa guguran, serta beberapa aktivitas seismik lainnya seperti gempa harmonik, embusan, dan tektonik jauh. Angka ini melanjutkan tren peningkatan aktivitas yang telah terlihat sejak hari sebelumnya, di mana total 89 kali gempa terdeteksi dalam sehari.
Menanggapi situasi ini, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menegaskan bahwa status Gunung Semeru saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya sekunder, seperti awan panas guguran, lava, dan aliran lahar dingin yang dapat mengancam jalur sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Pihak berwenang secara tegas melarang aktivitas warga di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah utama guna menghindari risiko lontaran batu pijar. Warga juga diminta menjaga jarak aman sejauh 500 meter dari sempadan sungai sebagai langkah antisipasi bahaya awan panas.