Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Sepanjang hari Jumat (10/7/2026), tercatat sebanyak lima kali erupsi yang memuntahkan material abu ke atmosfer dengan ketinggian bervariasi.
Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, rangkaian erupsi dimulai pada pukul 16.42 WIB hingga 21.40 WIB. Letusan tertinggi tercatat pada erupsi pertama dengan kolom abu mencapai 250 meter di atas puncak, atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Sebaran abu vulkanik yang berwarna kelabu hingga hitam pekat tersebut terpantau bergerak ke arah utara, timur laut, dan barat laut.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Andi Suwardi, menjelaskan bahwa seluruh rentetan letusan ini terekam dengan baik oleh instrumen seismik. Amplitudo maksimum tercatat berada di rentang 44,3 hingga 55,2 milimeter dengan durasi letusan berkisar antara 27 hingga 49 detik.
Meskipun frekuensi erupsi mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir, pihak otoritas menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau masih bertahan di Level III atau Siaga. Menurut Andi, penentuan status tersebut didasarkan pada evaluasi komprehensif dari berbagai parameter, bukan sekadar menghitung jumlah letusan harian.
Pihak Badan Geologi terus mengimbau masyarakat, nelayan, serta pelaku wisata untuk tetap mematuhi radius aman sejauh tiga kilometer dari kawah aktif. Keselamatan warga menjadi prioritas utama di tengah dinamika aktivitas vulkanik yang terus dipantau secara ketat untuk mengantisipasi potensi perubahan status lebih lanjut.