Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan intensitas. Sepanjang Rabu (8/7), gunung api aktif tersebut tercatat mengalami tiga kali erupsi berturut-turut, dengan semburan abu vulkanik tertinggi mencapai 100 meter di atas puncak atau sekitar 257 meter di atas permukaan laut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Sebagai langkah antisipasi, masyarakat, wisatawan, maupun nelayan dilarang keras melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah utama guna menghindari risiko material vulkanik.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pengawasan ketat terhadap kondisi muka air laut di sekitar lokasi. Hingga saat ini, pemantauan menunjukkan tidak ada anomali atau kenaikan muka air laut yang mengarah pada potensi tsunami akibat erupsi tersebut.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa sebaran abu vulkanik saat ini dominan bergerak ke arah Barat Laut menuju Provinsi Lampung. Meski demikian, arah sebaran abu sangat bergantung pada kecepatan dan arah angin. Sejauh ini, erupsi yang terjadi masih berdampak secara lokal.
Pihak BMKG terus memonitor kondisi atmosfer secara berkala guna mengantisipasi kemungkinan terburuk yang dapat mengganggu arus pelayaran maupun penerbangan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan selalu merujuk pada informasi resmi dari instansi terkait mengenai perkembangan aktivitas gunung tersebut.