Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, hingga kini masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang fluktuatif. Berada pada status Level III atau Siaga, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini terus melontarkan erupsi dalam beberapa hari terakhir, memicu peningkatan kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan otoritas kebencanaan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui pengamat gunung api, Mukdas Sofian, menegaskan bahwa zona tenggara di sepanjang aliran Sungai Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi, merupakan area terlarang bagi segala bentuk aktivitas warga. Selain itu, masyarakat juga diimbau menjauhi radius 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan guna menghindari risiko luncuran awan panas yang bisa mencapai jarak 17 kilometer.

Bahaya laten aktivitas vulkanik ini terbukti nyata setelah seorang penambang pasir bernama Veri Irawan menjadi korban saat beroperasi di bawah Jembatan Gladak Perak. Korban mengalami luka bakar serius setelah tertimpa tebing material pasir yang ternyata masih menyimpan panas di bagian bawahnya, meski permukaan luarnya terlihat dingin. Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengimbau para penambang untuk berhenti beroperasi di malam hari karena kondisi gunung saat ini sangat sulit diprediksi.

Hingga saat ini, tercatat intensitas letusan Gunung Semeru mencapai rata-rata dua kali per jam, dengan kolom abu vulkanik yang sering tertutup kabut. Meski ancaman erupsi nyata, aktivitas ekonomi warga di kawasan Pronojiwo dilaporkan tetap berjalan normal. Masyarakat setempat dinilai telah memiliki kesiapsiagaan yang baik berkat pelatihan tanggap bencana yang pernah diterima sebelumnya.

Pihak PVMBG kembali menekankan pentingnya kepatuhan terhadap zonasi aman. Warga diingatkan untuk mewaspadai ancaman awan panas, guguran lava, dan aliran lahar pada sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.