Tangerang Selatan kini menjadi salah satu sorotan utama terkait buruknya kualitas udara di kawasan penyangga Jakarta. Paparan polusi yang terjadi secara konsisten tidak hanya mengancam kesehatan fisik masyarakat, tetapi juga secara perlahan merusak stabilitas mental dan fungsi kognitif warga yang beraktivitas di dalamnya.

Urban & Environmental Health Lead CISDI, Wisya Aulia Prayudi, mengungkapkan bahwa tingginya mobilitas kendaraan bermotor menjadi pemicu utama buruknya kualitas udara di wilayah tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, jumlah kendaraan bermotor di Tangerang Selatan diproyeksikan menembus 1,3 juta unit pada tahun 2025. Selain emisi transportasi, keberadaan kawasan industri serta kebiasaan masyarakat membakar sampah secara terbuka turut memperparah konsentrasi partikel halus berbahaya di udara.

Wisya menjelaskan bahwa partikel PM2,5 yang berukuran sangat kecil mampu menembus aliran darah dan menyebar ke seluruh organ tubuh. Dalam jangka pendek, polutan ini memicu iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Sementara dalam jangka panjang, dampaknya jauh lebih fatal, mulai dari penyakit kardiovaskular, memperburuk diabetes, hingga meningkatkan risiko demensia pada usia lanjut. Ancaman ini juga menyoroti kesenjangan sosial, di mana pekerja informal di jalanan menjadi kelompok paling rentan karena terpapar langsung tanpa perlindungan memadai.

Dampak buruk polusi ternyata meluas hingga ke aspek psikologis. Psikolog klinis dari Noutrisi Jiwa, Winona Lalita, memaparkan bahwa penurunan pasokan oksigen bersih ke otak akibat udara kotor memicu respons siaga pada tubuh, yang kemudian meningkatkan hormon stres atau kortisol. Hal inilah yang menyebabkan seseorang kerap merasa cemas, lemas, kehilangan motivasi, serta mengalami ketidakstabilan emosi saat berhadapan dengan lingkungan yang berkabut polusi.

Untuk menekan laju emisi, perubahan gaya hidup masyarakat dan perbaikan infrastruktur publik harus berjalan beriringan. Program Director Bike2Work Indonesia, Dimas Gilang, menekankan pentingnya beralih ke transportasi aktif seperti sepeda yang dikombinasikan dengan kereta komuter. Namun, ia menggarisbawahi bahwa peralihan ini membutuhkan komitmen pemerintah dalam membangun jalur sepeda yang aman, trotoar yang layak, serta konektivitas dari rumah menuju stasiun transportasi publik.

Di sisi lain, kesadaran lingkungan skala rumah tangga juga memegang peran penting. Kampanye pengurangan sampah plastik dan penghentian pembakaran sampah mandiri perlu digalakkan karena aktivitas tersebut menghasilkan super polutan berbahaya. Selain itu, langkah menghemat konsumsi listrik di rumah turut membantu menekan beban emisi dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berkontribusi pada pencemaran udara regional.