Aktivitas pendakian di Gunung Merapi melalui jalur Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah unggahan di media sosial menampilkan rekaman video yang menunjukkan banyaknya pendaki tetap nekat menembus kawasan puncak, meski pihak berwenang telah berulang kali memberikan peringatan keras.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Heri Wibowo, menegaskan bahwa hingga saat ini status Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga). Oleh karena itu, kegiatan pendakian sama sekali tidak direkomendasikan karena risiko keselamatan yang tinggi bagi masyarakat maupun para pendaki.

Heri mengungkapkan kekecewaannya terhadap rendahnya kepatuhan para pendaki. Berbagai peringatan yang dikeluarkan oleh otoritas terkait, mulai dari pihak Taman Nasional, BPPTKG, hingga seruan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kepala BNPB, tampak diabaikan oleh para pelaku pendakian.

Dalam upaya merespons fenomena ini, pihak BTNGM memilih untuk mengedepankan pendekatan persuasif dibandingkan tindakan represif. Rencana pertemuan tertutup dengan warga setempat sedang disiapkan untuk mencari solusi terbaik demi menekan aktivitas pendakian yang membahayakan nyawa tersebut.

Heri menambahkan, meskipun pengerahan aparat TNI dan Polri secara teknis memungkinkan, langkah tersebut dihindari guna meminimalisir potensi gesekan atau konflik horizontal dengan masyarakat. Saat ini, petugas tetap disiagakan di kawasan Selo untuk terus melakukan edukasi serta pencegahan di lapangan.

Sebagai informasi, status pendakian Gunung Merapi telah ditutup sejak tahun 2018 seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik. Sesuai ketentuan, akses masuk hanya diperbolehkan bagi kepentingan penelitian mitigasi bencana, sehingga segala bentuk pendakian umum di luar ketentuan tersebut dinyatakan melanggar prosedur keselamatan resmi.