Di tengah pergeseran perilaku konsumen dan kompetisi pasar yang semakin ketat, digitalisasi manajemen bisnis kini menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini sangat krusial agar sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional tersebut mampu bertahan dan terus berkembang.
Kepala Penelitian dan Pengembangan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Haryono, mengungkapkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kendati kontribusinya sangat besar, tata kelola bisnis pada sektor ini dinilai masih memerlukan banyak pembenahan.
Untuk mempermudah adaptasi teknologi, Haryono menjelaskan tiga tahapan penting yang sering kali disalahartikan oleh publik, yakni digitasi, digitalisasi, dan transformasi digital. Digitasi merupakan konversi fisik ke digital yang sederhana seperti mengubah dokumen kertas menjadi berkas PDF, sementara digitalisasi mengoptimalkan proses bisnis menggunakan teknologi seperti komputasi awan. Adapun transformasi digital melibatkan perubahan menyeluruh pada model bisnis menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan analitik data.
Meskipun digitalisasi menawarkan banyak manfaat, seperti perluasan akses pasar, efisiensi biaya operasional, hingga terbukanya peluang ekspor, pelaku UMKM masih dihadapkan pada berbagai hambatan nyata. Beberapa kendala utama yang sering ditemui di lapangan meliputi rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur, tingginya investasi awal, serta resistensi terhadap perubahan budaya kerja organisasi.
Sebagai solusi konkret atas kendala tersebut, FEB UGM memperkenalkan aplikasi berbasis web bernama Sistem Debit Kredit Enterprise Resource Planning (Sidek-ERP). Piranti lunak ini dirancang khusus untuk membantu pelaku UMKM merencanakan bisnis secara terintegrasi, mempermudah pembukuan, serta menyusun laporan keuangan dengan lebih cepat, akurat, dan andal.