Menjelang perhelatan Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2027, Zona Ekonomi Khusus Phu Quoc kini tengah berpacu dengan waktu. Sebanyak 21 proyek infrastruktur strategis, mulai dari pusat konvensi hingga perluasan Bandara Internasional Phu Quoc, harus dirampungkan dalam waktu kurang dari dua tahun. Tantangan logistik menjadi kendala utama karena posisi pulau yang terisolasi 100 kilometer dari daratan utama, yang menyulitkan mobilisasi material serta tenaga kerja dalam skala besar.

Untuk mengatasi kendala geografis tersebut, investor utama seperti Sun Group mengalihkan strategi pembangunan dari metode konvensional menuju teknologi konstruksi modern. Penggunaan struktur baja prefabrikasi menjadi tulang punggung dalam proyek ini. Rangka bangunan diproduksi dengan presisi tinggi di pabrik daratan utama, kemudian dikirim ke lokasi untuk dirakit. Pendekatan ini terbukti efektif dalam memangkas durasi pengerjaan sekaligus mengurangi limbah material secara signifikan.

Selain struktur baja, inovasi lain yang diterapkan adalah metode konstruksi modular atau yang sering diibaratkan sebagai "perakitan Lego". Melalui konsep ini, komponen seperti kamar hotel atau modul ruangan diproduksi secara utuh di pabrik sebelum dipasang di lokasi proyek. Kepala Strategi Investasi Sun Group, Tran Huy Hung, menyatakan bahwa metode ini mampu mempercepat durasi konstruksi hingga 30-60 persen dibandingkan cara tradisional.

Integrasi teknologi canggih lainnya juga dilakukan melalui penerapan Design for Manufacturing and Assembly (DFMA) serta Building Information Modeling (BIM). Sistem BIM memungkinkan sinkronisasi data yang akurat antara tahap desain hingga perakitan, sehingga risiko kesalahan di lapangan dapat diminimalisir. Bahkan, perusahaan saat ini tengah menjajaki penggunaan teknologi cetak 3D untuk menciptakan komponen arsitektur yang lebih kompleks dengan efisiensi material yang lebih baik.