Setelah 18 bulan implementasi Resolusi 57, lanskap riset dan pengembangan di Vietnam menunjukkan dinamika perubahan yang signifikan, khususnya dalam transformasi digital dan inovasi teknologi. Namun, tantangan besar masih membentang dalam upaya mengonversi hasil riset ilmiah menjadi nilai ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Para ahli menyoroti pentingnya perbaikan komprehensif pada siklus inovasi, mulai dari fase penelitian, pengujian, hingga komersialisasi produk. Sebagai langkah solutif, Universitas Sains dan Teknologi Hanoi kini mengembangkan model ruang inovasi interdisipliner. Model ini dirancang untuk menyatukan peran lembaga riset, keterlibatan pelaku industri, serta dukungan investasi guna memastikan hasil penelitian memiliki relevansi pasar yang kuat.

Profesor Dr. Le Anh Tuan, Direktur Universitas Sains dan Teknologi Hanoi, menekankan perlunya keberanian untuk mengadopsi mekanisme penerimaan risiko. Hal ini dinilai krusial dalam pengelolaan tugas penelitian agar ilmuwan lebih leluasa bereksperimen. Sejalan dengan itu, usulan penerapan mekanisme "jalur hijau" mencuat sebagai solusi untuk menyederhanakan birokrasi administratif bagi universitas riset utama.

Di sektor teknologi strategis seperti kecerdasan buatan (AI), kemajuan telah dicapai melalui pengembangan V-Bench oleh Universitas VinUni. Kendati demikian, pengembangan AI ke depan memerlukan infrastruktur data nasional yang solid dan kerangka hukum yang jelas, termasuk mekanisme pengujian terkontrol untuk teknologi baru. Sinergi antara kebijakan yang fleksibel, perlindungan kekayaan intelektual yang ketat, dan dukungan infrastruktur menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian teknologi nasional di masa depan.