Sektor kesehatan kota kini tengah memacu implementasi program pemeriksaan kesehatan rutin dan skrining gratis sebagai langkah strategis dalam memantau kondisi kesehatan warga. Sejak awal tahun 2026, tercatat lebih dari 278.100 warga telah mendapatkan layanan skrining, dengan total cakupan mencapai 51,48 persen dari populasi penduduk kota.
Dinas Kesehatan telah menginstruksikan pusat kesehatan daerah serta rumah sakit rujukan untuk melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah kecamatan. Langkah ini bertujuan untuk memvalidasi data penduduk yang belum terlayani pada tahun 2026, sehingga rencana pemeriksaan lanjutan dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata di setiap wilayah, termasuk melalui pos kesehatan keliling guna mempermudah akses warga.
Target ambisius telah ditetapkan bagi daerah pegunungan agar menyelesaikan pemeriksaan kelompok prioritas sebelum puncak musim hujan. Sementara bagi wilayah lainnya, otoritas kesehatan menargetkan setidaknya 60 persen cakupan terpenuhi per September 2026, dengan penyelesaian menyeluruh diharapkan rampung pada akhir tahun tersebut.
Direktur Dinas Kesehatan menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud penerapan regulasi pencegahan penyakit nasional yang bertujuan memperkuat manajemen kesehatan dari level akar rumput. Pengintegrasian data kesehatan ke dalam sistem rekam medis elektronik, termasuk pemanfaatan aplikasi VNeID, menjadi kunci utama dalam memangkas birokrasi administrasi serta memastikan riwayat kesehatan warga terpantau secara berkelanjutan.
Sistem digitalisasi ini memungkinkan fasilitas kesehatan untuk memperbarui data pasien dalam waktu 24 jam setelah pemeriksaan. Dengan rekam medis yang terintegrasi, tenaga medis dapat meminimalisir pemeriksaan duplikat sekaligus menyediakan layanan yang lebih personal, akurat, dan efisien bagi masyarakat di masa depan.