Kawasan Gunung Ambang kini menjadi fokus perhatian sekelompok pegiat lingkungan setelah meningkatnya aktivitas pendakian yang tidak dibarengi dengan kesadaran menjaga kelestarian alam. Permasalahan sampah yang berserakan serta maraknya coretan vandalisme pada fasilitas pendakian mendorong delapan komunitas pecinta alam dari Bolaang Mongondow Raya (BMR) untuk bergerak melakukan pemulihan ekosistem.
Dalam rangkaian aksi bertajuk "Satu Langkah, Dua Manfaat Bebas Sampah & Vandalisme" yang berlangsung pada 1–3 Juli 2026, para relawan bahu-membahu membersihkan sampah sepanjang jalur pendakian. Selain itu, mereka melakukan pembersihan fasilitas di Pos 1 hingga Pos 3 dengan menghapus aksi vandalisme serta memasang penanda jalur baru untuk menunjang keselamatan dan navigasi para pendaki.
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara Aliansi Pecinta Alam BMR, Vertical Merah Putih, PA Manguni Green Community, KMPA Maleo, MPA Butaiyo Nusa, KPAB Ochetellus Kotamobagu, Komunitas Pendaki, serta KPAB Lembah Hitam Adventure. Koordinasi lapangan dipimpin langsung oleh Acil Taulama dan Wahyudi Makalalag sebagai upaya nyata meminimalisir dampak buruk aktivitas manusia terhadap kawasan konservasi.
Acil Taulama menekankan bahwa setiap pendaki memiliki kewajiban moral untuk menjaga keasrian gunung. Ia secara tegas menyindir oknum yang mengabaikan kebersihan dengan mempertanyakan logika membawa beban naik, namun enggan membawa sampah turun. Menurutnya, eksistensi diri di media sosial tidak seharusnya dibuktikan dengan tindakan merusak pohon atau mencoret fasilitas umum.
Senada dengan hal tersebut, Mekry Supit mengajak masyarakat untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai budaya hidup. Para relawan berharap aksi ini mampu menyadarkan para pendaki bahwa keindahan Gunung Ambang merupakan warisan yang harus dijaga bersama demi kelangsungan generasi mendatang, bukan sekadar objek untuk dinikmati sesaat.