Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali memberikan pukulan bagi sektor pariwisata di kawasan Selat Sunda. Larangan mendekati radius berbahaya yang ditetapkan otoritas berwenang membuat sejumlah pelaku usaha jasa wisata kehilangan peminat karena pembatasan akses pendaratan bagi wisatawan.

Chandra, salah satu pelaku usaha *open trip* Krakatau, menjelaskan bahwa saat ini wisatawan hanya diperbolehkan menyaksikan pesona gunung dari jarak aman melalui kapal. Prosedur ketat ini diterapkan demi menjamin keselamatan pengunjung dari ancaman abu vulkanik maupun paparan gas beracun yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Sebelumnya, paket perjalanan wisata ke kawasan Krakatau menjadi daya tarik utama dengan harga Rp 400 ribu per orang, yang mencakup fasilitas transportasi, akomodasi di Pulau Sebesi, hingga konsumsi. Namun, sejak status aktivitas gunung meningkat, tren pembatalan perjalanan oleh calon wisatawan dari berbagai daerah seperti Bekasi dan Palembang meningkat signifikan. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mengalihkan destinasi liburannya ke lokasi wisata lain di Lampung.

Kondisi lesunya sektor pariwisata ini berdampak langsung pada perekonomian masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari arus kunjungan wisata di sekitar Pulau Sebesi. Bagi para pelaku usaha, keselamatan pengunjung tetap menjadi prioritas utama di atas keuntungan finansial, meskipun pendapatan mereka mengalami penurunan yang cukup dalam.

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup di tengah ketidakpastian aktivitas vulkanik, para penyedia jasa wisata kini memilih beralih sementara menjadi penyedia transportasi laut. Mereka melayani penyeberangan reguler dari Pelabuhan Canti menuju Pulau Sebesi sembari menunggu kondisi Gunung Anak Krakatau kembali dinyatakan normal dan aman untuk aktivitas pariwisata.