Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan intensitas aktivitas vulkanik pada Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Selat Sunda. Terhitung sejak 2 Juli 2026 hingga akhir pekan lalu, instrumen pemantau telah merekam sedikitnya 18 kali kejadian letusan.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Rio Bonik Situmorang, menyatakan bahwa meskipun aktivitas tercatat cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir, status gunung api tersebut sejauh ini masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. Hingga saat ini, pihak PVMBG terus melakukan observasi ketat terhadap fluktuasi kegempaan yang kerap berubah-ubah.

Menurut Rio, letusan terakhir yang berhasil terdeteksi oleh perangkat pemantau terjadi pada Sabtu malam, tepatnya pukul 23.34 WIB. Kondisi visual gunung dari Pos Pengamatan Pasauran, Kabupaten Serang, sempat terhambat akibat tertutup kabut tebal, sehingga pemantauan saat ini lebih mengandalkan data instrumen vulkanik yang beroperasi 24 jam penuh.

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya, PVMBG tetap memberlakukan rekomendasi zona aman dengan ketat. Masyarakat, wisatawan, serta pelaku pelayaran dilarang keras beraktivitas atau mendekat dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat setempat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak bersumber dari otoritas resmi. Pihak PVMBG berkomitmen untuk terus memutakhirkan informasi mengenai perkembangan aktivitas magma guna menentukan kebijakan mitigasi yang tepat dan memastikan keselamatan warga di sekitar Selat Sunda.