Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang menunjukkan peningkatan intensitas dalam sepekan terakhir telah mendorong masyarakat di Pulau Sebesi, Lampung, untuk meningkatkan kewaspadaan. Guna mengantisipasi dampak erupsi yang sering terjadi pada malam hari, pemerintah desa setempat kini menginstruksikan seluruh dusun untuk menjalankan ronda secara rutin.

Kepala Desa Tejang, Syamsiar, menyampaikan bahwa suara dentuman letusan gunung yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pemukiman warga kerap terdengar jelas. Langkah ronda tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi agar masyarakat dapat melakukan evakuasi secara sigap jika sewaktu-waktu kondisi menunjukkan peningkatan ancaman yang signifikan.

Selain sistem ronda, pemerintah desa juga telah memastikan infrastruktur mitigasi bencana di Pulau Sebesi dalam kondisi siap pakai. Jalur evakuasi serta rambu-rambu petunjuk telah disosialisasikan kepada warga agar mereka memahami tindakan yang harus diambil saat situasi darurat terjadi. Mengingat sejarah kelam tsunami tahun 2018, warga kini menaruh perhatian khusus terhadap setiap perkembangan status gunung api tersebut.

Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, aktivitas vulkanik di Selat Sunda ini masih terpantau aktif. Meski periode pengamatan tertentu menunjukkan intensitas yang relatif tenang, instrumen Badan Geologi masih mencatat adanya gempa vulkanik. Kondisi ini membuat nelayan, pelaku usaha wisata, hingga warga di sepanjang pesisir Lampung dan Banten tetap berada dalam status siaga.