Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Selat Sunda, tepatnya di perbatasan wilayah Lampung Selatan dan Banten, hingga saat ini masih mempertahankan statusnya pada Level III atau Siaga. Penetapan status tersebut didasarkan pada pemantauan intensif yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terhadap aktivitas vulkanik yang masih terus berlangsung.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau dari Badan Geologi, Deny Mardiono, menjelaskan bahwa aktivitas visual maupun seismik di gunung api tersebut menunjukkan dinamika yang patut diwaspadai. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada Rabu (8/7) antara pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, teramati adanya embusan asap dari kawah aktif dengan ketinggian mencapai 10 hingga 100 meter di atas puncak. Asap kawah tersebut tampak berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan bertekanan lemah.
Dari sisi kegempaan, alat seismogram mencatat adanya aktivitas tremor menerus atau microtremor. Getaran ini menjadi indikator penting adanya pergerakan magma atau fluida di bawah permukaan tubuh gunung. Tercatat, amplitudo getaran tremor berada dalam kisaran 1 hingga 15 milimeter, dengan nilai amplitudo dominan mencapai 5 milimeter.
Meskipun kondisi meteorologi di sekitar kawasan gunung setinggi 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini cenderung cerah dan berawan, otoritas terkait tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Seluruh pihak diminta untuk terus mengikuti arahan dari lembaga berwenang guna meminimalisir risiko yang mungkin timbul akibat aktivitas vulkanik tersebut.