Persaingan di industri kecerdasan buatan (AI) global kian memanas seiring dengan meningkatnya kapabilitas penalaran dari berbagai model besutan perusahaan raksasa seperti OpenAI, Google, hingga xAI. Data terbaru dari TrackingAI yang mengacu pada Mensa Norway IQ Test mengungkapkan lompatan signifikan dalam kecerdasan model-model AI tersebut pada tahun 2026.
Hasil pengujian menempatkan model seperti Grok-4.20 Expert Mode dan GPT-5.4 Pro di posisi puncak dengan perolehan skor IQ mencapai 145. Angka ini secara signifikan melampaui rata-rata IQ manusia yang berada di kisaran 100, sekaligus mengategorikan kedua model tersebut ke dalam standar intelektual 'gifted' atau jenius dalam tes penalaran abstrak.
Pengujian yang dilakukan melibatkan 35 soal yang berfokus pada pengenalan pola visual, simbol, dan logika relasional. Menariknya, model yang dibekali kemampuan visi (vision) cenderung menunjukkan performa lebih unggul dibandingkan model berbasis teks murni karena kemampuan mereka dalam memproses pola visual secara langsung layaknya penglihatan manusia.
Peningkatan skor ini terjadi sangat pesat, mengingat pada tahun 2025 skor tertinggi AI masih berada di angka 135. Namun, para ahli memperingatkan bahwa skor IQ hanyalah salah satu instrumen pengukur kemampuan logika semata. Parameter ini tidak mencakup aspek krusial lainnya seperti kreativitas, etika, kemahiran pemrograman, maupun akurasi dalam pengolahan bahasa alami secara kontekstual.
Oleh karena itu, predikat sebagai chatbot tercerdas tetap bersifat subjektif bagi pengguna. Pilihan chatbot terbaik idealnya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, mulai dari produktivitas kerja, analisis data yang kompleks, hingga pengembangan konten kreatif, karena setiap model memiliki keunggulan karakteristik yang berbeda-beda di luar sekadar angka IQ.