Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Sejak Kamis dini hari hingga pagi hari, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat meletus sebanyak tujuh kali dengan tinggi kolom abu yang bervariasi antara 400 hingga 700 meter di atas puncak.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengonfirmasi bahwa letusan terakhir terjadi pada pukul 07.47 WIB. Kolom abu yang teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, bergerak mengarah ke barat daya. Berdasarkan rekaman seismograf, letusan tersebut memiliki amplitudo maksimum 21 milimeter dengan durasi 124 detik.

Selain letusan, pemantauan instrumen juga mencatat intensitas aktivitas kegempaan yang cukup tinggi selama enam jam terakhir, mulai dari gempa letusan, embusan, hingga aktivitas tektonik jauh. Mengingat kondisi tersebut, otoritas vulkanologi menetapkan status Gunung Semeru tetap berada pada Level III (Siaga).

Pihak berwenang memberikan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius lima kilometer dari puncak kawah, mengingat risiko lontaran batu pijar yang berbahaya. Selain itu, warga diminta untuk menjauhi sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat diimbau agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman awan panas guguran, lava, dan aliran lahar dingin di sepanjang lembah sungai yang berhulu di Gunung Semeru. Kewaspadaan harus difokuskan terutama pada aliran sungai Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai di sekitarnya yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik terkini.