Sebuah unggahan video berdurasi singkat yang menampilkan erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mendadak viral di media sosial. Dalam tayangan berdurasi 10 detik tersebut, terlihat kepulan asap pekat disertai pijaran api merah yang menyala di tengah kegelapan malam, dengan latar belakang suasana di atas sebuah kapal.

Video tersebut tersebar luas dengan narasi yang mengklaim bahwa rekaman diambil langsung oleh seorang pekerja kapal pada pukul 20.49 WIB. Visual yang dramatis tersebut sempat memicu kekhawatiran publik mengenai aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda.

Menanggapi keresahan tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera memberikan klarifikasi tegas. Pihak otoritas memastikan bahwa video yang beredar tersebut adalah hoaks dan dipastikan bukan merupakan Gunung Anak Krakatau.

Analisis PVMBG menunjukkan bahwa visual tersebut merupakan hasil penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kejanggalan teknis terlihat jelas pada rekaman layar ponsel di dalam video yang tidak menangkap aktivitas vulkanik nyata, sehingga masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh konten manipulatif yang beredar di dunia maya.