Narasi yang sering muncul dalam diskusi pertanian nasional adalah anggapan bahwa petani kita tertinggal karena enggan mengadopsi teknologi modern. Drone penyemprot, sensor tanah, hingga aplikasi cuaca dianggap sebagai barang mewah yang tidak tersentuh hanya karena petani dinilai terlalu tradisional atau nyaman dengan pola lama. Namun, pandangan ini cenderung menyederhanakan masalah yang jauh lebih kompleks di lapangan.
Data BPS tahun 2023 menunjukkan bahwa jutaan petani kita masih beroperasi di wilayah dengan infrastruktur internet yang belum memadai. Kehadiran startup agritech yang menawarkan solusi berbasis AI sering kali tidak mempertimbangkan realitas di lapangan, seperti tidak meratanya sinyal 4G atau keterbatasan perangkat smartphone yang mumpuni bagi petani di pelosok negeri.
Selain kendala akses, masalah biaya kesempatan menjadi penghalang utama. Dengan rata-rata kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektare, margin keuntungan petani sangat tipis. Investasi pada perangkat teknologi atau biaya operasional aplikasi menjadi beban ekonomi yang berisiko bagi mereka, di mana setiap kesalahan langkah dapat mengancam keberlangsungan hidup keluarga di minggu berikutnya.
Faktor krusial lainnya yang sering terabaikan adalah persoalan kepercayaan. Petani memiliki memori kolektif akan program-program pemerintah atau teknologi masa lalu yang menjanjikan kemajuan namun berakhir pada ketergantungan biaya produksi yang tinggi atau kerusakan alat tanpa dukungan perbaikan. Hal ini menciptakan sikap skeptis terhadap pendekatan "top-down" yang digagas dari meja kantor tanpa melibatkan keterlibatan langsung petani sebagai subjek.
Untuk memutus siklus kegagalan ini, pemerintah perlu merombak strategi digitalisasi. Alih-alih memaksakan teknologi, inovasi harus didorong dari kebutuhan nyata petani di lapangan. Pendampingan literasi harus berjalan beriringan dengan penyediaan infrastruktur yang merata. Kepercayaan tidak dapat dibangun melalui presentasi atau jargon efisiensi, melainkan melalui bukti nyata bahwa teknologi benar-benar menjadi alat bantu yang mampu memecahkan masalah keseharian mereka.