Suasana syahdu menyelimuti lereng Gunung Semeru saat ribuan umat Hindu berkumpul di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Desa Senduro, Lumajang. Di bawah udara pegunungan yang sejuk, lantunan kidung suci dan aroma dupa yang membubung menjadi simbol syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta dalam rangkaian upacara Piodalan yang berlangsung dari 29 Mei hingga 10 Juli 2026.
Piodalan, yang secara harfiah berarti hari jadi pura, telah bertransformasi menjadi ruang pertemuan lintas budaya dan spiritualitas bagi umat Hindu dari Jawa Timur hingga Bali. Prosesi panjang yang dimulai dari Matur Piuning, Melasti, hingga puncak Tawur Panca Wali Krama ini bukan sekadar ritual rutin, melainkan upaya menjaga keseimbangan hidup sesuai filosofi Tri Hita Karana—hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Wira Dharma, Pengurus Harian Pura Mandara Giri Semeru Agung, menegaskan bahwa keistimewaan perayaan ini terletak pada semangat kerukunan yang terpancar dari masyarakat sekitar. Meski memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda, warga lokal bahu-membahu menyambut peziarah, menjaga keamanan, dan memastikan kelancaran upacara. Inilah wujud nyata moderasi beragama yang telah mengakar kuat di Lumajang jauh sebelum istilah tersebut menjadi wacana populer di tingkat nasional.
Selain dimensi spiritual, perayaan Piodalan juga membawa dampak nyata bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Senduro. Kehadiran ribuan umat menjadi angin segar bagi pelaku UMKM, pemilik warung makan, hingga penyedia akomodasi di sekitar kawasan pura. Integrasi antara pelestarian tradisi dan pemberdayaan ekonomi inilah yang menjadikan Piodalan sebagai model perayaan budaya yang inklusif dan produktif.
Di tengah arus modernisasi dan tantangan polarisasi sosial yang kerap membayangi bangsa, Pura Mandara Giri Semeru Agung berdiri sebagai mercusuar perdamaian. Pelajaran tentang arti saling menghormati di Senduro menjadi pengingat bahwa keberagaman sejatinya bukanlah ancaman, melainkan modal sosial untuk mencapai ketenteraman hidup bersama.