Selama ini, pemanasan dianggap sebagai satu-satunya tameng pelindung dari cedera saat berolahraga. Namun, para ahli medis kini meluruskan bahwa persepsi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Meskipun pemanasan krusial untuk mempersiapkan sistem saraf dan meningkatkan aliran darah ke otot, melakukan rutinitas ini tidak menjamin seseorang bebas dari risiko cedera secara permanen.
Spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, menjelaskan bahwa cedera pada dasarnya terjadi ketika aktivitas fisik yang dilakukan melampaui ambang batas kapasitas jaringan tubuh. Artinya, meskipun seseorang telah melakukan rangkaian pemanasan dengan benar, risiko cedera akan tetap ada jika beban latihan yang diberikan tidak sesuai dengan kemampuan fisik individu tersebut.
Kesalahan umum lain yang sering terjadi adalah pemilihan jenis peregangan. Banyak orang masih terjebak melakukan peregangan statis sebelum mulai berolahraga. Padahal, untuk mempersiapkan tubuh melakukan gerakan yang aktif, disarankan untuk mengutamakan peregangan dinamis agar otot lebih siap dan elastis saat bergerak intensif.
Selain pentingnya teknik pemanasan, tahap pendinginan setelah berolahraga juga tidak boleh diabaikan. Pendinginan berfungsi mengembalikan sirkulasi darah serta menenangkan otot ke kondisi semula. Jika sirkulasi darah dapat dipulihkan dengan berjalan santai, maka peregangan statis justru lebih efektif dilakukan pada fase akhir latihan untuk mengembalikan fleksibilitas otot ke level normal.
Sebagai panduan praktis, beberapa gerakan sederhana dapat dilakukan sebelum berolahraga, seperti jalan di tempat selama tiga menit, heel digs, mengangkat lutut, shoulder rolls, dan menekuk lutut secara perlahan. Kombinasi antara pemanasan yang tepat, pendinginan yang benar, dan pemahaman terhadap limitasi fisik menjadi kunci utama dalam menjaga performa serta keamanan selama beraktivitas.