Masyarakat di enam desa di Kabupaten Tuban kini mulai mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi mandiri. Inisiatif ini dikemas dalam Program Pengembangan Taman Gizi Keluarga (TaGiKa) yang bertujuan untuk menekan angka tengkes (stunting) sekaligus mengantisipasi risiko penyakit tidak menular sejak dini.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, sebanyak 30 anggota Kelompok Kerja (Pokja) TaGiKa mendapatkan pelatihan intensif mengenai pemenuhan nutrisi keluarga di Kecamatan Rengel, Tuban. Kegiatan ini disinergikan dengan penyediaan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis yang diikuti oleh sedikitnya 45 warga setempat.
Ahli Gizi Puskesmas Soko, Erma Dewiarti, menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurutnya, investasi kesehatan terbaik dimulai dari kebiasaan pola makan sehat keluarga dengan memanfaatkan bahan pangan yang beragam, tanpa harus bergantung pada bahan makanan yang mahal.
Sementara itu, Analis Ketahanan Pangan dari Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Peternakan (DKP2P) Tuban, Wiwin Rista Kuswanti, mendorong warga memanfaatkan pekarangan sekitar. Halaman rumah tidak hanya diproyeksikan untuk ditanami sayuran dan buah, melainkan juga berfungsi sebagai sarana edukasi praktis bagi keluarga dalam mengenali pangan sehat yang mudah dijangkau.
Selain edukasi pangan, warga juga mendapatkan layanan pemeriksaan medis yang mencakup deteksi kadar gula darah, kolesterol, asam urat, hingga tekanan darah. Layanan gratis ini diselenggarakan oleh Yayasan eL-SAL Indonesia bekerja sama dengan Institut Sains, Teknologi, dan Kesehatan (ISTEK) ICsada Bojonegoro guna mendeteksi penyakit tidak menular berdasarkan status gizi masyarakat.
Program berkelanjutan ini diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas. Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, menjelaskan bahwa kontribusi industri hulu migas ini sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kabupaten Tuban untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, berharap para kader aktif menggerakkan warga di lingkungan masing-masing untuk menerapkan pola hidup sehat. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor industri ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian kesehatan keluarga secara berkelanjutan di Bumi Wali.